Sendiri

Saat dimana hanya ada aku, kisah terlewat, masa datang dan Tuhan. 

Momen yang bisa membuatmu menghasilkan sebuah temuan berupa evaluasi diri kemudian menjadi karya,  atau bahkan kesedihan tak berujung menjadi sepi gulana gundah merana. 

November 

Genderang bertalu talu

Sorak sorai tak kenal malu

Berisik suara nyanyian

Yel yel teriak-teriakan

Bukan disana demikian
Takbir sahut menyahut

Menyanjung Sang Junjungan

Mengelu-elukan cinta padaNya

Bersatu padu bernaungkan iman

Menyambut sang pemimpin

Berlaku adil pada semuanya
Jalan ramai menderu damai

Sejuk atmosfir meski panas berterik

Teduh terasa walau berjubel penuh langkah

Disana aku ingin berada

Lautan manusia berkain putih

Tuturnya santun,  jernih berfikir 

Berarak bergandengan, berjalan sama-sama
Indah nian jika ku kata

sayang, aku kalap nan takut

tak berani tapakan langkah meski sejengkal

bersama mereka aku ingin

november. 

Antrian

Berdiri menunggu

Bergilir maju

Berdesak aku

Depan tinggi

Belakang tinggi

Kanan tembok

Kiri pojok
Akulah yang di tengah

Namun aku adalah akhir

Menengok orang-orang 

Peluh disana sini ~
Akulah yang lelah

Mereka hanya berpeluh saja

Tak berfikir aku berdiri berjam jam

Hanya menatapiku sambil berlalu

Kabar rumah

Siang tak begitu terik. Masih ramadhan… Orang-orang berpuasa dan menahan hawa nafsu. Aku di bonceng sahabatku namanya sita menuju salah satu tempat perbelanjaan di kota ini. Mencari nama makanan atau obat bernama angkak. Beras merah yang di fermentasi.
Raisa bernyanyi dengan santainya. Ah ya… Itu bunyi dering hp ku. Ada telpon.
“halo… Assalamualaikum.. ”
” waalaikumussalam.. Mbak, dmn? ”
” di jalan mah,  mau beli angkak”
“mbak,  pulang skarang ya. Pokoknya sekarang pulang”
“hah? Iya mah”.
Telpon dimatikan dari sebrang.
Aku bingung. Pulang(?). Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Aku diminta pulang saat itu juga.
“ada apa? ”
Aku bertanya-tanya.

Si sakit

Ada gadis diam-diam demam
Panas tinggi suhu di badan
Mata kunang-kunang berair mata
Melihat sekeliling tak ada siapa
Merintih bibir tipisnya
Menahan lara dari kepala
Demam menjalar sekujur badan
Memohon ampun atas sakitnya

image

Dinggin di rasa,  demam di badan
Menggigil Ia tak ada yang tahu
Malam-malam menjelang
Berselimut,  hingga tertidurlah Ia..

Tengah malam ingin bangun Ia,
Mencoba sahur,  tak ada daya
Kepala pening berputar-putar
Demam masih melekat di badan

Disebut-sebutlah nama,
Nama Tuhannya, nama emak bapaknya,  nama kasihnya,  nama sahabatnya..
Oh sungguh tak ada yang datang..
Malah-malah malaikat maut terbesit kehadirannya..
Si gadis ketakutan, takut-takut hingga tertidurlah Ia…

#tersambung

Sajak Cinta

IMG_0138
jumat;
entah bagaimana aku mencintai hari jumat;
hmmm awal tahun, setelah ku ingat-ingat;
sejak itu, mungkin aku mencintainya sangat;
memahami, betapa hari ini seperti pukat;
punya daya magis yang mendekap-memikat;
ah… tidak! tidak! daya logisnya juga membuatku terpikat;
seseorang itu, parasnya kucari, berharap tak ada sekat;
mencuri-curi, mencari-cari, Ia yang begitu mengikat;
aku dan Ia. seakan kami beberapa saat terikat;
hanya dihari jumat;
bersamamu hai pemikat;
 ——-
sawalas
20 Mei 2016
9.43 WIB
Yogyakarta

sajak gi

IMG_0440

pagi memagi

tak melupa mandi dan gosok gigi

mengambil sajadah, berdoa pada Sang Pembagi

membuka catatan, oh hitungan tambah kurang kali bagi

gegas, bersiap aktivitas pagi

naiki gendaraan bergigi

lampu merah, bertemu senyum menyunggi

terkaget, ada gadis kecil berbagi

oh sungguh malunya memagi

pagi, pagi, malu, pagi

pagi, memagi, berbagi

 


sawalas

20 Mei 2016

07.52 WIB.

Yogyakarta

 

sajak kopi

minuman-kopi

(sumber gambar: http://www.isigood.com)

harum baunya hitam pekat

pahit terasa sungguh sangat

panas dingin tetap memikat

mengulun senyum hingga tercekat

bara aura, aku terikat

 

menelan rasa pahit seteguk

tak sadar, “gluk… gluk…”

nikmat, seteguk-seteguk

habis sudah, sesengguk

jumpa didepan si guk-guk

berteriak “guk.. guk..”

 

duh duh, kaum manusia

bukan bayi, bukan lansia

banyak langkah yang sia

mudhorot dalam usia

esok jumpa Ia

 


sawalas.

19.5.2016

Pukul 23.36 WIB.

Yogyakarta

 

 

lelaki ini

sering…
ingin bersajak untuknya
merangkai bait-bait puisi untuk seseorang ini
sekedar memilah diksi untuk sosoknya
berkata indah untuk lelaki ini

gagal.
selalu tak bisa.
gemetar badan ini.
tak mampu lidah ini.
kelu. kaku.

lelaki yang terlampau indah dari sajak
lelaki yang terlampau puitis dari puisi
hingga diksipun tak mampu berkisah tentangnya

lelaki ini, pemimpin pertama yang aku kenal
memimpin rumah kecil, tempatku tumbuh
lelaki ini, sangat santun padaku
tak menyuruhku melakukan apapun,
selalu membimbingku, mengarahkanku
siap mendengarkanku, sesekali menegurku

sekarang, lelaki ini sudah semakin bertambah usia
terakhir aku berjumpa dengannya, ia begitu menyenangkan dalam tegarnya.
ah, aku benar2 tak tahu harus berkata apa,
lelaki ini, sungguh tak ada yang menyamai.

sawalas.
Yogyakarta, 30 april 2016
pkl. 15.15 WIB