Telor Asin

Yeah!

Aku akan memulai tulisan-tulisanku tentang jualan/dagang/wirausaha dari si telor asin.

Dari jaman kecil aku gak begitu suka si telor asin. Sampe kemudian menikah, punya suami yang doyan telur asin ini.

Nahh ketemulah ide jualan telur sejak awal nikah. Waktu itu masih di rumah kontrakan. Eh ternyata banyak banget tu saingan jualan telor. Banting-bantingan harga pula hoho. Horor sih. Gak jadilah kita jualan si telor.

Setahun kemudian kita pindah perumahan. Disini gak ada yg jualan, krn perumahan baru dan masih pembangunan. Selain itu, pola konsumsinya pun berbeda.

Tiap belanja kita cek harga. Belanja pindah-pindah warung, sembari membandingan harga dan kualitas telor yang dijual.

Kita amati tu, emak-emak tetangga. Dimana dan apa yang mereka beli.

Terus teruss waktu bergulir heheh

Gak sengaja liat status sodara jauh dari kampung yg di Cikarang juga. Dia posting jualan telor asin dengan harga terjangkau.

Kalkulator kami langsung jalan dooong.

“Wah bisa nih. Kalo kita jualin” begitu pikir kami.

Singkat cerita, kita coba targetin jual telor asin 100biji. Alhamdulillah nyampe tu target.

Etapi tapii… yang bikin ngakak sekaligus bersyukur berlipat-lipaattt

50rb laba yang kita dapet hahah!

100biji telur untuk 50rb rupiaaah!

Capeknya terbayar, lelahnya terbayar, meski laba sedikit, pelajaran hidup kita dapetin.

Jadi lebih menghargai para penjual kelontong. Yah! Penjual telor khususnyaa 😚

Kita saja yang hanya promosi via medsos, terima pesanan, ambil telor dari sodaraku dalam kondisi siap konsumsi, kemudian membagi-bagi sesuai pesanan. Nyatanya berasa capeknya..

Apalagi mereka yang menggantungkan hidupnya dari jualan telor inii…

Ya Rabbana…. Si telor asin ini beneran ngajarin caranya hidup dalam ketekunan.

Kita dah bayangin dapet 500rb dari jualan telor, nyatanya dapet 50rb bikin syukur kita luber-luber. Alhamdulillah 😍

Terimakasih telor asin!

Aku pun jadi doyan telor asin, gegara ini! Haha

Review: Buku Papa – Rabbit Hole

Buku Papa menjadi buku kedua buat Mahyr anak pertamaku, si anak perempuanku.

Buku ini sama halnya dengan buku Hoaam, diterbitkan oleh Rabbit Hole. Penulisnya Devi Raissa dan ilustratornya Guntur. Buku papa berhasil bikin buku yang memiliki makna mendalam tentang sosok ayah.

Buku Papa menggambarkan tentang kedekatan seorang ayah dengan anaknya. Membacakan buku ini pada anak, membuat bonding anak dengan orang tua terutama papa menjadi lebih kuat. Hal inilah yang terjadi pada Mahyr, anak ku.

Kecenderungan sosok ayah yang biasanya jarang dirumah karena bekerja, membuat anak kesulitan mengenal ayahnya. Keterbatasan waktu sering menjadi kendala. Buku papa berhasil menjembatani itu semua. Ya setidaknya itulah yang terjadi pada Mahyr.

Buku papa juga secara halus membuat orang tua khususnya papa untuk menunjukan rasa sayangnya pada anak. Terlihat dari halaman pertama buku ini yang diilustrasikan dengan seorang ayah yg mencium si anak.

Pada anak ku, Mahyr…

Ku belikan buku papa pada usianya yang ke 8 bulan. Buku papa selalu aku bacakan setiap siang hari disela jeda waktu bermain. Mahyr sangat semangat, seakan memahami bahwa mamanya sedang bercerita tentang ayah papanya. Hingga ketika tiba di halaman yang mengilustrasikan video call dengan si ayah, Mahyr happy seakan bilang, “Mahyr video call dengan ayah”.

Lagi…. lagi…

Terimakasih Rabbit Hole!

Terus membuat buku anak yang berkualitas 😃

BABARAN: Cerita Lahir Mahyr

Cerita lahiran selalu jadi pertanyaan kalo ketemu temen yang lagi hamil trimester III. Nah, dari pada harus ku ulang terusss cerita sampe capek haha! Aku memutuskan menuliskannya. Berharap bisa dijadikan pembelajaran buat temen-temen yang baca, dan tentunya biar pembaca bisa tau detailnya sejelas-jelasnya cerita ini tanpa harus ku capek bercerita sampe berbusa 😝

Sebelum ke cerita lahiran, ada beberapa hal yang aku & suami putuskan terkait lahirnya anak pertama kami.

1. Dimana?

Tempat lahiran. Ini jadi point pertama yang urgent banget. Mengingat kami punya 4 orang tua (baca: orangtua ku & orang tua suami) semuanya sama-sama ingin aku melahirkan di rumah mereka. Orang tuaku di Pemalang, & orang tua suami di Temanggung. Kenapa aku sebut rumah mereka? sebab kami merantau di Cikarang, Bekasi & alhamdulillah memiliki rumah sendiri (baca: saat itu masih ngontrak hihi).

Memilih ‘dimana’ akan melahirkan membawa kami pada pertanyaan kedua.

2. Ditemani siapa?

Iyaap! Siapa yang akan mendampingi persalinan. Beda tempat jelas beda pendamping. Meskipun masing-masing orang tua kami yg di Pemalang maupun di Temanggung meyakinkan, bahwa suami bisa mendampingi persalinan asal nanti dikabari jelang persalinan, kami tidak mantap dengan itu. Kami menganut prinsip, “hamil itu bukan hanya istri, bukan hanya aku, tapi kami berdua hamil. Begitu juga persalinan. Ini tanggung jawab kami bersama, sehingga harus bersama, kami berdua-sepaket untuk melewatinya. Hal itulah yang membuat kami memutuskan untuk yakin melahirkan anak pertama kami di rantau, berdua.

Konflik keluarga?

Tentu. Bisa dibilang ini konflik terpanas yang harus kami hadapi. Sabar memberi pengertian, bahwa pilihan kami ini tepat & kami bisa melaluinya. Orang tua kami khawatir, dsb. Hingga akhirnya mereka pun memahaminya setelah melalui negoisasi, perbincangan, perdebatan, yaaahhh! Super dehh kalo inget itu. Betapa kekeh kami, dg keputusan kami.

Finally! keputusan kami memang benar-benar keputusan terbaik. Bisa dibilang win-win solution. Orang tua kami pun akhirnya memahami keputusan kami.

Bagi kami, momen persalinan bukan hanya melahirkan anak, lebih dari itu… melahirkan seorang ayah & ibu. Maka memang sebaiknya ada ayah yang mendampingi persalinan, memahami bagaimana istrinya berjuang. Sehingga, si suami akan lebih menghargai sang istri. Intinya banyak banget point positif jika melahirkan dirumah sendiri (baca: meskipun ngontrak), sebab disitulah rumah tangga yang sesungguhnya. Penuh pembelajaran 💕

Pengantarnya panjang yaa! 😛

Langsung saja. Inilah proses persalinan Mahyr….

Tanggal 1 Januari 2019 aku mulai kontraksi. Keluar lendir darah dari jalan lahir pkl. 13.00 wib. Aku berusaha rileks. Belum bilang suami, sebab saat itu kami masih santai dirumah, suami libur kerja tahun baru, dan baru akan makan siang plus belum mandi hahhaha!

Pkl. 14.00 wib. keluar lendir darah lagi. Aku sampaikan ke suami (fyi. Kami sudah makan siang & mandi 😝). Aku duduk di gym ball, supaya rileks sambil latihan nafas.

Pkl. 16.00 wib. lendir darah mulai banyak. Kami siap-siap ke rumah sakit mitra keluarga Cikarang.

Pkl. 17.00 wib. sampai rumah sakit langsung cek bukaan, alhamdulillah bukaan 2.

Pkl. 18.00 wib. kontraksi masih jarang. Aku selalu fokus nafas, inhale-exhale tiap kontraksi datang. Masih bisa jalan-jalan kesana kemari.

Pkl. 20.00 wib. kontraksi makin sering.

Pkl. 22.00 wib. Cek pembukaan lagi, sudah bukaan 3. Sejak itu, kami diminta pindah ruang, dari ruang rawat inap ke ruang transit persalinan. Cek CTG (detak jantung baby untuk mengetahui interval kontraksi), kontraksi masih terhitung jarang namun sudah berasa nikmat sekali 😂

Pkl. 03.00 wib. cek bukaan lagi. Sudah bukaan 4. Kami diminta pindah ke ruang persalinan.

Pkl. 04.00 wib. saya diminta toilet untuk BAB & BAK. Setelah itu cek bukaan sudah bukaan 5.

Pkl. 07.00 wib. Alhamdulillah bukaan lengkap. Dokter datang, dan siap untuk persalinan.

Pkl. 08.31 wib. Mahyr lahir. Langsung diadzani & IMD.

Alhamdulillah prosesnya sangat dimudahkan Allah 😭

Mahyr lahir dengan persalinan normal tanpa interupsi apapun. Tanpa induksi buatan, tanpa robekan dijalan lahir, tanpa kendala yang berarti. Persalinan yang katanya sakit, alhamdulillah sakitnya pun tidak berasa, karna aku fokus di nafas dan tentunya berkah banyak yang mendoakan 😳

Selama proses persalinan, aku ditemani suami. Full tanpa sedetik pun suami tidak disamping ku. Setelahnya kami pun memahami, perasalinan ini memberikan bonding yang kuat antara aku & suami. Suami mendampingiku, menggosok punggungku setiap aku merasakan kontraksi sembari inhale-exhale (kalo inget ini kami selalu tertawa bersama, mengingat betapa campur aduk rasanya saat itu. Romantis sih hahahha)

Kami begadang bersama semalaman. Alhamdulillah 😍 Allah kuatkan.

Mahyr lahir hari rabu, tanggal 2 Januari 2019 diusia kandungan 38minggu, dengan berat 3,073kg, panjang 49cm.

Selamat datang bayi perempuanku 😭 (haru bangettttt huhu)

*Note. Next ku akan share tips rileks menghadapi persalinan.

Review: Hoaam-Rabbit Hole (Buku Anak)

Buku Hoaam terbitan PT Lubang Kelinci Indonesia ini adalah buku pertama yang aku belikan untuk Mahyr anak pertamaku. Saat itu Mahyr berusia 4bulan. Buku Hoaam aku bacakan rutin setiap hari jelang tidur malam.

Ajaib!

Buku ini berhasil bikin Mahyr memahami rutinitas dengan baik. Iyaa. Buku Hoaam memang mengenalkan aktivitas kepada anak. Halaman pertama yang menggambarkan anak bangun tidur sampai halaman akhir yang bercerita tentang anak yang tidur bersama ayah ibunya di malam hari.

Buku Hoaam ditujukan untuk anak usia 1-3th. Namun buku ini banyak dibacakan para orang tua pada anak dibawah satu tahun. Gambar yang besar dengan sedikit tulisan membuat buku ini menarik untuk bayi & batita. Selain itu, terdapat pembeda malam dan siang melalui perbedaan warna pada lembar ceritanya. Warna kuning untuk siang dan biru untuk malam. Perbedaan warna ini mengenalkan konsep siang dan malam pada bayi.

Penulisnya Devi raissa yg juga psikolog anak, dan ilustratornya Guntur, berhasil membuat buku Hoaam ini sangat dianjurkan untuk dibacakan para orang tua pada anaknya sedini mungkin.

Oiya. Buku Hoaam ini berbentuk buku bantal, bahannya dari busa. Jadi tidak khawatir sobek. Bagi orang tua dengan bayi difase oral, buku ini sangat aman.

Embun dimataku 

  “Hati-hati ya mba”, tutur Ulum adik angkatanku sambil merangkul tubuhku.

“Iya, kamu juga hati-hati, tolong bilang sama teman-temanmu yang lain, mba minta maaf tidak pamit dulu sama kalian. Insya Allah dua minggu lagi mbakyu pulang ke sini” ucapku sambil menyalaminya.

Udara pagi terasa menusuk tulang, kesegarannya menyeruak masuk kedalam jiwaku hanya saja semua itu tidak bisa membuatku tenang. Ku teringat dengan simbah dan adik di Pemalang. Ku coba mengingat Sang Pencipta dalam dzikir dan doa untuk menenangkan hati, sambil menungu bus menuju Pemalang, kota kelahiran yang selalu ada direlung hati yang terdalam. Terkenang masa lampauku ketika berangkat ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, aku rela meninggalkan sahabatku, keluargaku, terutama mak dan bapak. Ku termenung.

Anganku melayang

Menyusuri jalanan masa silam

Ku di tengah  kehangatan canda tawa

Di bawah naungan kasih sayang

Kini ku harus lalui jurang terjal tak bertepi

Serpihan Kristal dan duri kehidupan yang slalu menanti

Demi sebuah cita

Senyum manis bunda tercinta

“Pemalang………!”  “Pemalang………!”

Teriakan seorang kernet bus membuyarkanku dari lautan masa lalu. Ku langkahkan kaki menuju bus dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Penumpang bus memang tidak begitu padat, mungkin karena hari masih pagi. Kubuka mushaf dan mulai membacanya, kini ku tengah terhanyut dalam indahnya kalam Ilaahi. Kubaca satu persatu sambil menghayatinya, hatiku sudah mulai tenang setelah tiga malam sebelumnya aku bermimpi nenek dan adik kecelakaan, dan membuatku gelisah dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswi, kakak, tentor, sekaligus tulang punggung bagi keluargaku, yang hanya adik dan nenek. Kakek yang tak pernah ku ketahui wajahnya.Ayah  tengah bertemu Sang Pencipta ketika aku masih sekolah dasar, dan ibu menyusul tiga tahun kemudian.

Sejak itulah  aku dan adik  yang masih sekolah dasar menjadi yatim piatu dan hidup bersama nenek. Aku dan adik mulai belajar bekerja, dari jual sayur hasil kebun nenek hingga membantu nenek di kebun. Kuterbiasa hidup dengan diselimuti kabut dan itu membuatku menjadi orang yang berwatak baja.

Pemalang……! Pemalang…!

Kuterbangun dan kaget oleh suara kernet, ternyata kalam Ilaahi telah membuatku tertidur pulas. Kusegera bergegas turun dari bus dan menaiki angkot. Sampai di rumah sepi sekali. Perlahan kuketuk pintu, tak ada jawaban, kucoba membukanya ternyata tidak dikunci.

Uhuk….uhuk…uhuk….

Suara batuk simbah mulai terdengar setelah kumembuka pintu yang tidak terkunci. Kuberlari bergegas menuju kamar simbah. Di sana ada adikku Farid yang menyuapi simbah.

“Assalamu’alaikum……”  sapaku sambil menahan tangis.

“Wa’alaikumussalam…..”, jawab adikku yang meraih tanganku dan merangkulku. Air mata pun pecah dan tak terbendung lagi. Butiran air mata sebagai wujud rasa rindu, karena sudah dua tahun tak bertemu, sedang air mataku tumpah karena sedih memandang adik yang kurus dan nenek yang sangat pucat.

“Dik, primen kabare?”, tanyaku.

“Alhamdulillah mbak yu, mbak balik ko ra ngomong-ngomong sih, yen ngomong kanaku bisa siap-siap bersihna kamar nggo sare mbak yu” jawab adikku sambil mengusap butiran embun dari kelopak matanya.

“Iya, mba kangen ngomah, kelingan adik karo simbah putri”.

Kulangkahkan kaki dan duduk di samping simbah sambil menggantikan adik menyuapi simbah. Tubuhnya tidak sesegar delapan tahun  yang lalu, rambutnya berubah menjadi tipis dan ubannya memenuhi kepala, butiran embun mengalir di pipi yang sudah keriput termakan usia.

Uhuk…..uhuk……

“May, koe kok balik, ora apa-apa yen ninggalna kuliah karo kerjamu?” Tanya simbah sambik berbatuk-batuk.

“Sudahlah mbah, jangan memikirkan itu, aku kangen dengan rumah apa simbah tidak suka melihat aku pulang?”

“Bukan begitu, simbah hanya sungkan simbah tidak mau mengganggu kuliah dan kerjamu nduk”. Ungkap simbah dengan bahasa Pemalang.

“Mbah, jangan terlalu memikirkan May, semuanya baik-baik saja kok. Warung makan May Alhamdulillah dibanjiri pembeli malah sudah menambah dua karyawan, kuliah May juga baik-baik saja. Sekarang, yang terpenting kesehatan simbah. Besok pagi ke dokter ya mbah, sekarang simbah istirahat.

Kubereskan piring bekas makan simbah. Kulangkahkan kaki menuju dapur. Di sana adikku Farid sedang merebus air. Adik tidak menyadari kehadiranku, kutatap Farid lekat-lekat. Wajahnya tak seperti dulu lagi, aku merasa ada yang ganjil dengan adik. Kutepis pikiran aneh yang merasuk ke dalam jiwaku. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku, benar atau tidak, kucoba yakinkan diri kalau adik baik-baik saja. Karna tidak berhati-hati, piring yang kubawa jatuh.

“Prang…..!” adik terkejut dan menatapku heran.

“Astaghfirullah….., mbakyu hati-hati”.

Kutersenyum dan menatapnya.

“Dik, mba mau ngomong sama kamu, tapi sebelumnya mba minta maaf”, kataku dengan hati-hati.

“Iya mbak, ada apa to?”

“Begini……..”

Belum sempat kata-kata itu diteruskan, adik meninggalkanku dengan setengah berlari meuju kamar simbah, aku mengikutinya. Suara smbah yang memanggil aku dan adik, terdengar sayup-sayup di sela-sela batuknya yang  tak kunjung sembuh.

“Rid….May….sini nduk”  tutur simbah dengan nafas terengah-engah.

“Iya mbah, ini Farid dan di samping Farid ada mbak yu”, sahut Farid yang sudah duduk di samping simbah berbaring.

“Nak, simbah minta maaf ya, atas semua salah dan khilaf yang simbah perbuat. Simbah selalu merepotkan kalian. Simbah hanya bisa menjadi beban, simbah minta maaf”.

“Mbah, kami tidak merasa direpotkan, bahkan tak pernah terlintas di pikiran kami kalau simbah itu beban bagi kami. Simbah adalah orang tua kami”, ucap Farid sambil menyeka air mata.

“Iya mbah, benar apa yang dikatakan dik Farid, kami juga minta maaf atas semua salah kami”, tambahku.

“Setelah ini simbah tidak akan merepotkan kalian, simbah minta maaf” tutur simbah di tengah isak kami.

Kata-kata simbah bagaikan angin yang menghembuskan awan dan menjadikannya hujan. Butiran bening tak terbendung lagi membentuk hulu sungai di pipi.

“Simbah minum jamu dulu ya, ini sudah Farid buatkan jamu”, kata adik.

Tak ada sahutan simbah, hanya diam dan membisu. Kubaringkan tubuh simbah setengah duduk tetapi tak ada sambutan juga, hatiku mulai ragu. Kuraih tangan yang sudah keriput sambil memanggil namanya, nadinya sudah tak berdetak lagi, dadaku sesak kuyakinkan diri kalau aku bisa kuat. Kuseka butiran embun yang berebut keluar. Kucoba tersenyum walau hatiku perih. Kususun kata-kata untuk menyampaikannya pada adik yang menatapku penuh khawatir.

“Mbakyu, simbah kenapa? Simbah ndak pa pa to, simbah baik-baik aja kan mbak yu?”, Tanya adik dengan berlinang air mata.

“Dik, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, itu adalah hukum Allah, tak ada yang bisa menyangkal. Begitu juga dengan kita, kita bertemu dengan simbah, hidup bersama pada saatnya semua akan berpisah dan sekarang Allah telah memanggil simbah. Allah lah yang Maha Kuasa kita hanya makhluk Allah”, ucapku dengan senyum menahan tangis. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.

Dua minggu setelah meninggalnya simbah, ku ajak adik ke Widuri. Di sana adik mulai mau banyak bicara setelah dua minggu ini adik banyak diam. Aku maklumi sikap adik  yang begitu, adik merasa sangat terpukul kehilangan simbah, begitu juga aku hanya saja, adik lebih dekat dengan simbah karena aku yang harus merantau ke Yogyakarta untuk kuliah dan bekerja. Ku akui aku dan adik hanyalah manusia biasa yang tak bisa terus-menerus tegar dan sabar.

“Mbak, mbakyu pen mangkat aring Jogja kapan?”

“Patang dina maning dek, kowe ora pa-pa kan tak tinggal?”

Dia menatap lautan sambil mengangguk pelan. Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang dewasa lebih awal karena kehidupan yang dilaluinya, kini ku teringat percakapan yang terputus. Percakapan yang terjadi sebelum simbah meninggal.

“Dik, mbak yu mau tanya jawab dengan jujur ya dik”, kataku hati-hati.

“Ngopo to mbak yu?’

“Sebelumnya mbakyu minta maaf, sejak mbakyu pulang dan melihatmu mbak yu merasa ada yang mengganjal. Mbak yu sudah coba untuk yakinkan diri kalau kamu baik-baik saja, tapi tidak membuahkan hasil sama sekali.”

“Memangnya ada apa mbak yu? katakan saja”

“Dik, apa benar kamu sudah mengenal nikotin?”, tanyaku ragu.

Adik tidak menjawab perkataanku, dia masih menatap lautan, ku tunggu jawaban dari adik, tapi yang ada hanya kebisuan. Adik masih terdiam, ku pandang lekat-lekat wajahnya, hatiku berontak ingin tahu sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Sebuah jawaban.

“Dik, mbakyu sangat membenci kebohongan”, suaraku memecah keheningan diantaraaku dan adik.

“Maafkan Farid mbak yu, Farid sudah mengecewakan mbak yu, adik tidak bisa menjadi adik yang mbak yu harapkan” jawabnya sambil menunduk.

Seketika dadaku sesak, butiran bening itu membasahi pipiku. Ku tak mampu berkata, ku merasa menjadi kakak yang paling buruk di dunia, bahkan lebih buruk dari itu, aku tak bisa menjaganya. Pesan mama semasa  masih hidup terngiang di kepala bahwa ku harus menjaga adik dalam keadaan bagaimanapun juga. Kini aku telah  gagal menjadi panutan bagi adikku.

Tetes air mata kecewa

Tengah menganak sungai

Saat ku tau

Kau telah masuk dalam perangkap

Perangkap yang membuatku tak mengenalimu

Kau begitu jauh

Bahkan tak terjangkau bagai langit dan bumi

Sesal selalu menghantuiku

Hatiku remuk

Harapanku tandas

Bagai tanah terbawa air

Aku bukanlah panutanmu

Aku tak bisa menjagamu

Hingga kau kini terpelosok

Tetes air mata

Kini berubah menjadi haru

Kau telah bersimpuh

Memohon ampun

Kepada yang  Maha Luas

Suara gemericik selalu ada di tengah malam mu

Tuk temui Sang Permadani

                                                                                            

(cerpen terbit tahun 2010 di majalah kemenag) 
                        

Sajak Pujian

sambut menyambut

sahut menyahut

tersebut sebut
puji pujian

saut sautan

bertaut-tautan
senyum mengembang

bahagia tersambang

diiringi tembang
selamat untuk paduka atas pujian

bersyukur hamba yang tanpa pujian

syukur atas untaian keberkahan

maaf kan hamba tanpa pujian

mencoba mengais remah-remah keberkahan
apalah hamba, agungnya paduka

hamba belajar akan sahaja

paduka sudah berwibawa
hatur nuhun tersampaikan

pada Gusti, pada paduka, pada para malaikat, pun pada iblis yg membuat hamba menaiki tangga ini~
masih sembari mengais keberkahan dari Gusti 

bagi hamba yg tanpa pujian ini

keberkahan sangat berarti.. apalah hamba,

pengais remah-remah berkah dari Gusti. 

Sawalas, 

Grha sabha pramana

16 November 2016

pkl. 09.37 WIB

Jejaka bercelana hitam (1)

ia kah? 

ia kah jejaka itu? 

berjalan terburu hadir dihadapanku, 

aku berlari, tetiba sudah disisiku

aku terdiam, ia berdiri menatapku. 

ia kah jejaka yg namanya bersanding denganku di lauhul mahfudz? 

sejauh aku pergi, ia selalu menghampiri. 

ia kah jejaka itu? 

jejaka bercelana hitam yg belum kutahu bagaimana rupa sesungguhnya.
ia kah jejaka itu? 

pengingat akan cinta Sang Maha Penyayang. 

ia kah jejaka itu? 

hadirnya membuat banyak orang rela mengangkat kepala, menjabat tangannya satu persatu. 

ia kah jejaka itu? 

yang baru kutahu hitam warna celana dan sepatunya. (dikutip dari sajak jejaka bercelana hitam 1/999+) Sawalas, 

3 Desember 2016

Pemalang

​Sajak pelangkah

Sajak menjejak tak berjarak
Bagimu langkah itu ada

Bagiku kasih bersembunyi 

mereka dekat berteriak 

jauh bersua mengada

dekat bersapa sunyi
siapa dimana adanya

kemana bagaimana tanya
pergi tanpa berpaling 

datang bersama beling
kata ramai memukau semua

kata tetangga indah berupa
sudah disini

sudah disana
pelangkah muda menua

pelangkah tua bersua
langkah bersenyum satu

sajak ikhlas menyatu
Assalamualaikum… Barokallahu fi kum… ================

Yogyakarta, 1 Maret 2017

Sawalas. 

#sajak #pelangkah #langkah #puisi #syair #Maret #2017 #yogyakarta

Sajak Purnama dua

PadaNya.

.Mereka berteriak lantang; pamerkan keperkasaan; yakin tak tertanding; kokoh melebihi dinding.

.

.Disana terseok datang;

.menghalau ketersiksaan;

.harap dapat bersanding;

.surga jadi pembanding; katanya hidup berfana; kataku hidup mengabadi;

.kataku hidupnya fana; katanya hidupku abadi

.sekumpulan mereka; sekumpulan disana; terlena dengan fana; terhanyut dalam mengabdi;

.”bukan!”, teriak aku

.”bukan tentang mereka dan disana!!”, lantang suaraku

.”kudengar dari sang pujangga” ucapku menggema. .”Yang fana adalah waktu. Kita abadi!!!!!” aku tersenyum

.”bagaimana bisa?” tanyamu tak paham

.”kita abadi jika padaNya”

.”kita berpadu hanya padaNya”

.”kita berjuang pun padaNya” tuturku perlahan

.”benarkah?” terasa ada binar bahagia darimu.

.”YA!!! KITA ABADI!!!!!” Suaramu menggelegar.

.

.Sawalas

.Pasundan, 14 Maret 2017.

.

.nb. Barokallah @m.khaerul_huda.  Mugi Gusti berkahi. Selamat mengabadi dan selamat mengabdi di usia 113. Percayalah, anda sudah menua 😅😎✌. Lekas berbenah, waktumu terbatas 😎.

.

#waktu #fana #abadi #mengabdi

LEMON ENERGY

You gotta keep winning or get pushed to the edge

Wirdatul Aini

Live your life with read and write ^^

Gizi is Easy!

Sharing nutrition things and others

perpuskecil.wordpress.com/

some books to share from my little library

KacamataBanyu

Lepaskan dan terimalah ia, war :)

ayatayatadit

[citation needed]