Perempuanku (sajak) 

Kisahku bermula darimu ; 

sosok biasa, aku padamu;

sejak hadir di bumi manusia;

sekarang telah berusia;

perempuanku;

senyum milikmu untuk ku;

jika saja tak beradu;

aku ingin selalu berpadu;
kamu perempuan itu;

mencintaiku satu;

kamu,  ibuku! 

Iklan

Embun dimataku 

  “Hati-hati ya mba”, tutur Ulum adik angkatanku sambil merangkul tubuhku.

“Iya, kamu juga hati-hati, tolong bilang sama teman-temanmu yang lain, mba minta maaf tidak pamit dulu sama kalian. Insya Allah dua minggu lagi mbakyu pulang ke sini” ucapku sambil menyalaminya.

Udara pagi terasa menusuk tulang, kesegarannya menyeruak masuk kedalam jiwaku hanya saja semua itu tidak bisa membuatku tenang. Ku teringat dengan simbah dan adik di Pemalang. Ku coba mengingat Sang Pencipta dalam dzikir dan doa untuk menenangkan hati, sambil menungu bus menuju Pemalang, kota kelahiran yang selalu ada direlung hati yang terdalam. Terkenang masa lampauku ketika berangkat ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, aku rela meninggalkan sahabatku, keluargaku, terutama mak dan bapak. Ku termenung.

Anganku melayang

Menyusuri jalanan masa silam

Ku di tengah  kehangatan canda tawa

Di bawah naungan kasih sayang

Kini ku harus lalui jurang terjal tak bertepi

Serpihan Kristal dan duri kehidupan yang slalu menanti

Demi sebuah cita

Senyum manis bunda tercinta

“Pemalang………!”  “Pemalang………!”

Teriakan seorang kernet bus membuyarkanku dari lautan masa lalu. Ku langkahkan kaki menuju bus dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Penumpang bus memang tidak begitu padat, mungkin karena hari masih pagi. Kubuka mushaf dan mulai membacanya, kini ku tengah terhanyut dalam indahnya kalam Ilaahi. Kubaca satu persatu sambil menghayatinya, hatiku sudah mulai tenang setelah tiga malam sebelumnya aku bermimpi nenek dan adik kecelakaan, dan membuatku gelisah dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswi, kakak, tentor, sekaligus tulang punggung bagi keluargaku, yang hanya adik dan nenek. Kakek yang tak pernah ku ketahui wajahnya.Ayah  tengah bertemu Sang Pencipta ketika aku masih sekolah dasar, dan ibu menyusul tiga tahun kemudian.

Sejak itulah  aku dan adik  yang masih sekolah dasar menjadi yatim piatu dan hidup bersama nenek. Aku dan adik mulai belajar bekerja, dari jual sayur hasil kebun nenek hingga membantu nenek di kebun. Kuterbiasa hidup dengan diselimuti kabut dan itu membuatku menjadi orang yang berwatak baja.

Pemalang……! Pemalang…!

Kuterbangun dan kaget oleh suara kernet, ternyata kalam Ilaahi telah membuatku tertidur pulas. Kusegera bergegas turun dari bus dan menaiki angkot. Sampai di rumah sepi sekali. Perlahan kuketuk pintu, tak ada jawaban, kucoba membukanya ternyata tidak dikunci.

Uhuk….uhuk…uhuk….

Suara batuk simbah mulai terdengar setelah kumembuka pintu yang tidak terkunci. Kuberlari bergegas menuju kamar simbah. Di sana ada adikku Farid yang menyuapi simbah.

“Assalamu’alaikum……”  sapaku sambil menahan tangis.

“Wa’alaikumussalam…..”, jawab adikku yang meraih tanganku dan merangkulku. Air mata pun pecah dan tak terbendung lagi. Butiran air mata sebagai wujud rasa rindu, karena sudah dua tahun tak bertemu, sedang air mataku tumpah karena sedih memandang adik yang kurus dan nenek yang sangat pucat.

“Dik, primen kabare?”, tanyaku.

“Alhamdulillah mbak yu, mbak balik ko ra ngomong-ngomong sih, yen ngomong kanaku bisa siap-siap bersihna kamar nggo sare mbak yu” jawab adikku sambil mengusap butiran embun dari kelopak matanya.

“Iya, mba kangen ngomah, kelingan adik karo simbah putri”.

Kulangkahkan kaki dan duduk di samping simbah sambil menggantikan adik menyuapi simbah. Tubuhnya tidak sesegar delapan tahun  yang lalu, rambutnya berubah menjadi tipis dan ubannya memenuhi kepala, butiran embun mengalir di pipi yang sudah keriput termakan usia.

Uhuk…..uhuk……

“May, koe kok balik, ora apa-apa yen ninggalna kuliah karo kerjamu?” Tanya simbah sambik berbatuk-batuk.

“Sudahlah mbah, jangan memikirkan itu, aku kangen dengan rumah apa simbah tidak suka melihat aku pulang?”

“Bukan begitu, simbah hanya sungkan simbah tidak mau mengganggu kuliah dan kerjamu nduk”. Ungkap simbah dengan bahasa Pemalang.

“Mbah, jangan terlalu memikirkan May, semuanya baik-baik saja kok. Warung makan May Alhamdulillah dibanjiri pembeli malah sudah menambah dua karyawan, kuliah May juga baik-baik saja. Sekarang, yang terpenting kesehatan simbah. Besok pagi ke dokter ya mbah, sekarang simbah istirahat.

Kubereskan piring bekas makan simbah. Kulangkahkan kaki menuju dapur. Di sana adikku Farid sedang merebus air. Adik tidak menyadari kehadiranku, kutatap Farid lekat-lekat. Wajahnya tak seperti dulu lagi, aku merasa ada yang ganjil dengan adik. Kutepis pikiran aneh yang merasuk ke dalam jiwaku. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku, benar atau tidak, kucoba yakinkan diri kalau adik baik-baik saja. Karna tidak berhati-hati, piring yang kubawa jatuh.

“Prang…..!” adik terkejut dan menatapku heran.

“Astaghfirullah….., mbakyu hati-hati”.

Kutersenyum dan menatapnya.

“Dik, mba mau ngomong sama kamu, tapi sebelumnya mba minta maaf”, kataku dengan hati-hati.

“Iya mbak, ada apa to?”

“Begini……..”

Belum sempat kata-kata itu diteruskan, adik meninggalkanku dengan setengah berlari meuju kamar simbah, aku mengikutinya. Suara smbah yang memanggil aku dan adik, terdengar sayup-sayup di sela-sela batuknya yang  tak kunjung sembuh.

“Rid….May….sini nduk”  tutur simbah dengan nafas terengah-engah.

“Iya mbah, ini Farid dan di samping Farid ada mbak yu”, sahut Farid yang sudah duduk di samping simbah berbaring.

“Nak, simbah minta maaf ya, atas semua salah dan khilaf yang simbah perbuat. Simbah selalu merepotkan kalian. Simbah hanya bisa menjadi beban, simbah minta maaf”.

“Mbah, kami tidak merasa direpotkan, bahkan tak pernah terlintas di pikiran kami kalau simbah itu beban bagi kami. Simbah adalah orang tua kami”, ucap Farid sambil menyeka air mata.

“Iya mbah, benar apa yang dikatakan dik Farid, kami juga minta maaf atas semua salah kami”, tambahku.

“Setelah ini simbah tidak akan merepotkan kalian, simbah minta maaf” tutur simbah di tengah isak kami.

Kata-kata simbah bagaikan angin yang menghembuskan awan dan menjadikannya hujan. Butiran bening tak terbendung lagi membentuk hulu sungai di pipi.

“Simbah minum jamu dulu ya, ini sudah Farid buatkan jamu”, kata adik.

Tak ada sahutan simbah, hanya diam dan membisu. Kubaringkan tubuh simbah setengah duduk tetapi tak ada sambutan juga, hatiku mulai ragu. Kuraih tangan yang sudah keriput sambil memanggil namanya, nadinya sudah tak berdetak lagi, dadaku sesak kuyakinkan diri kalau aku bisa kuat. Kuseka butiran embun yang berebut keluar. Kucoba tersenyum walau hatiku perih. Kususun kata-kata untuk menyampaikannya pada adik yang menatapku penuh khawatir.

“Mbakyu, simbah kenapa? Simbah ndak pa pa to, simbah baik-baik aja kan mbak yu?”, Tanya adik dengan berlinang air mata.

“Dik, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, itu adalah hukum Allah, tak ada yang bisa menyangkal. Begitu juga dengan kita, kita bertemu dengan simbah, hidup bersama pada saatnya semua akan berpisah dan sekarang Allah telah memanggil simbah. Allah lah yang Maha Kuasa kita hanya makhluk Allah”, ucapku dengan senyum menahan tangis. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.

Dua minggu setelah meninggalnya simbah, ku ajak adik ke Widuri. Di sana adik mulai mau banyak bicara setelah dua minggu ini adik banyak diam. Aku maklumi sikap adik  yang begitu, adik merasa sangat terpukul kehilangan simbah, begitu juga aku hanya saja, adik lebih dekat dengan simbah karena aku yang harus merantau ke Yogyakarta untuk kuliah dan bekerja. Ku akui aku dan adik hanyalah manusia biasa yang tak bisa terus-menerus tegar dan sabar.

“Mbak, mbakyu pen mangkat aring Jogja kapan?”

“Patang dina maning dek, kowe ora pa-pa kan tak tinggal?”

Dia menatap lautan sambil mengangguk pelan. Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang dewasa lebih awal karena kehidupan yang dilaluinya, kini ku teringat percakapan yang terputus. Percakapan yang terjadi sebelum simbah meninggal.

“Dik, mbak yu mau tanya jawab dengan jujur ya dik”, kataku hati-hati.

“Ngopo to mbak yu?’

“Sebelumnya mbakyu minta maaf, sejak mbakyu pulang dan melihatmu mbak yu merasa ada yang mengganjal. Mbak yu sudah coba untuk yakinkan diri kalau kamu baik-baik saja, tapi tidak membuahkan hasil sama sekali.”

“Memangnya ada apa mbak yu? katakan saja”

“Dik, apa benar kamu sudah mengenal nikotin?”, tanyaku ragu.

Adik tidak menjawab perkataanku, dia masih menatap lautan, ku tunggu jawaban dari adik, tapi yang ada hanya kebisuan. Adik masih terdiam, ku pandang lekat-lekat wajahnya, hatiku berontak ingin tahu sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Sebuah jawaban.

“Dik, mbakyu sangat membenci kebohongan”, suaraku memecah keheningan diantaraaku dan adik.

“Maafkan Farid mbak yu, Farid sudah mengecewakan mbak yu, adik tidak bisa menjadi adik yang mbak yu harapkan” jawabnya sambil menunduk.

Seketika dadaku sesak, butiran bening itu membasahi pipiku. Ku tak mampu berkata, ku merasa menjadi kakak yang paling buruk di dunia, bahkan lebih buruk dari itu, aku tak bisa menjaganya. Pesan mama semasa  masih hidup terngiang di kepala bahwa ku harus menjaga adik dalam keadaan bagaimanapun juga. Kini aku telah  gagal menjadi panutan bagi adikku.

Tetes air mata kecewa

Tengah menganak sungai

Saat ku tau

Kau telah masuk dalam perangkap

Perangkap yang membuatku tak mengenalimu

Kau begitu jauh

Bahkan tak terjangkau bagai langit dan bumi

Sesal selalu menghantuiku

Hatiku remuk

Harapanku tandas

Bagai tanah terbawa air

Aku bukanlah panutanmu

Aku tak bisa menjagamu

Hingga kau kini terpelosok

Tetes air mata

Kini berubah menjadi haru

Kau telah bersimpuh

Memohon ampun

Kepada yang  Maha Luas

Suara gemericik selalu ada di tengah malam mu

Tuk temui Sang Permadani

                                                                                            

(cerpen terbit tahun 2010 di majalah kemenag) 
                        

Sahan (chapter 4)

Desember 2013

Tuhan selalu punya cara untuk memberi jalan bagi niat baik. Termasuk saat berjuang untuk seseorang. Jika tetap padaNya, maka selalu ada jalan lapang utk perjuangan itu. 

**

Perkenalkan namaku selina. Usiaku 19 tahun. Aku perempuan dengan tinggi 150cm. Badanku mungil, beratku hanya 40kg. Sering aku dipanggil si mungil. Aku lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Kota kecil yang jarang orang tahu. 

Aku tipe introvert. Hanya mau berkomunikasi jika ada perlu saja. Apalagi jika berhubungan dg laki-laki. Aku menjauhi kontak dengan mereka. yah. Disini kamu tau aku pasti tidak punya pacar haha. 

Aku pecinta literasi. Hobiku menulis terutama sajak. Aku suka ketenangan. Lebih suka memilih berdamai dengan diri sendiri jika terjebak dalam keadaan riuh banyak orang. Aku punya duniaku sendiri. Di anganku selalu bertebaran diksi terhubung dengan tanganku layaknya kamus yang siap mngeluarkan isinya sesuai kehendakku. 

Jangan heran. Aku selalu terlihat menikmati semua keadaan disekitar ku. padahal aku asik tenggelam dalam duniaku. Tidak benar-benar menikmati. 

Alunan hidupku yang tenang, teratur, damai perlahan berubah. Seseorang menjadi sasaran kemarahanku. Ia harus bertanggung jawab atas riuh yang membuat kacau anganku, duniaku berubah. 

ia seorang lelaki yang aku pun tak yakin mengenalnya. berawal dari sebuah salam.

“hei, wit. Yah kmana aja sih?” temanku murni seperti mencariku sejak tadi. 

“ya. Knapa?” 

“tadi temen2 pramuka putra jenguk kita. Yah, kamu gak ketemu mereka deh” wajahnya terlihat kesal terhadapku

“hehe, maap. Tadi banyak yg harus aku selesaikan” aku menimpalinya sesopan mungkin. mencoba menghargainya. Sebenarnya aku bersyukur tidak bertemu teman2 pramuka putra. aku malas bertemu laki-laki jenis apapun. 

“duh. Bendahara sih ya. Tadi tu ada sahan kesini juga. Nyari kamu ih. Katanya titip salam gitu buat kamu”

“oh, iya” aku tersenyum singkat. “eh, udah ya. Ni aku harus kumpul sangker (baca: sangga kerja).  “sahan?” ucapku dalam hati. mencoba mengingat-ingat siapa sahan itu. “ah sudahlah”. Aku berlari menuju ruang sangga kerja. 

Saat itu aku menjadi sangga kerja kegiatan pengembaraan desember tradisional. Sebuah kegiatan pengembaraan yang diperuntukkan bagi penegak dan pandega se-kota Yogyakarta. Kegiatan yang diselenggarakan oleh kwartir cabang kota Yogyakarta yang dalam pelaksanaannya oleh dewan kerja cabang (DKC) kota Yogyakarta. Aku menjadi bendahara DKC sekaligus bendahara PDT. 

Pramuka putri UGM menjadi salah satu peserta kegiatan PDT. 

Sahan (chapter 3)

Juni 2013.

Jiwa bisa mengenal jiwa mana yang mencintai dengan tulus. jiwa juga akan berkumpul dengan jiwa lain yang mampu memahaminya dengan baik.

barangkali itulah yang terjadi.  Jiwa ku lebih dahulu mengenalinya. 

saat itu kegiatan KMD (Kursus Mahir Dasar). Pelatihan dasar untuk pramuka yang ingin menjadi pembina. Semacam sertifikasi dan pembekalan. 

Bersama teman satu diksar pramuka ugm aku mengikuti KMD. 

Berbeda dengan teman satu diksar yg berangkat bersama meniki transjogja, aku berangkat bersama senior ku jaman di madrasah. 

Kegiatan KMD berisi materi indoor dan outdoor. Sedikit membosankan untuk kegiatan indoor. Kami menerima materi dari pelatih dari pusdiklatcab kota Yogyakarta  (pusat pendidikan dan pelatihan cabang). Selebihnya kegiatan outdoor yang melelahkan. Penjelajahan dengan pos-pos dan teka-teki. Malam puncak dari KMD diselenggarakan upacara api unggun. 

Huft! 

Aku bukan orang lapangan dan tak begitu menyukai pramuka. Madrasah almamater saat di MAN yang membuatku akhirnya bergabung dengan ukm pramuka. Aku mengikuti KMD pun karna madrasah. Bagian dari pengabdian ku ke madrasah dengan membina pramuka. Aku melakukannya karna mencari berkah dan bentuk taqdimku terhadap tempat yang pernah memberi fasilitas aku untuk menuntut ilmu. 

Kembali ke KMD. 

Malam api unggun menjadi ajang saling mengenal antar sesama peserta. Aku malas mengikutinya jika bukan karna diwajibkan bagi semua peserta. 

Sudah bukan rahasia lagi. Malam api unggun yg buka dengan upacara sakral kemudian berlanjut sesi pentas seni. Disinilah biasanya cipanda (cinta patok tenda)  terjadi. Haha aku menyebutnya bgitu, karna biasanya cinta lokasi anak pramuka hanya sebatas ketika kegiatan saja. Patok tenda dicabut, hilanglah cinta. Haha. Bagian ini aku selalu menertawakan teman-temanku yg terjerat cipanda. Kasmaran sampe lupa diri, trus nangis bombay saat kemah berakhir. Ajaibnya, besoknya saat kemah lagi,  cipanda tetap populer. Ah anak muda. Haha kayak aku bukan anak muda saja. 

Ya. Aku sama mudanya dengan mereka. Tp aku memilih tdk terjerat cipanda. Aku menjauhi hal semacam itu. Aku tak suka kontak dengan makhluk bernama laki-laki. 

Malam api unggun KMD menjadi cerita lain bagi malam-malam api unggunku sebelumnya. 

sorak sorai peserta asik menikmati alunan musik, tepuk tangan, lompat2, joget, semua tertawa bahagia. 

Bagaimana denganku? Aku memilih duduk sesekali ikut tepuk tangan dan tertawa melihat kehebohan peserta lain. Menjadikan mereka objek puisi. Aku menikmati dengan caraku. Bait-bait puisi beterbangan di anganku. “Ah surga sekali hidupku”, bisik ku dalam hati. 

hingga anganku tetiba hilang. Bait-bait puisiku berserak. Aku tersentak. Seorang lelaki memegang tanganku. 

“jangan sentuh tanganku!” aku membentak, suaraku parau. 

Rasanya mau menangis. Seumur hidupku aku tak mengizinkan sembarang laki-laki menyentuh tanganku. Bukan apa-apa. Selain karna alasan agama, aku punya ketakutan berlebih terhadap laki-laki. Badanku akan bereaksi alergi. Mendadak demam, gatal-gatal. Sampai sekarang Aku pun tak tau yg terjadi padaku. 

Lelaki yg memegang tanganku kaget. Dia langsung melepas genggaman tangannya. Rautnya terlihat sangat merasa bersalah. Dia mempersilahkan aku untuk menuju tengah lapangan. 

Tanpa aku sadari, pusat perhatian tertuju padaku. Aku berjalan mengikuti lelaki itu. Sampai tengah lapangan, tepatnya di samping api unggun temanku dari pramuka putra UGM bersimpuh dihadapanku. Menyembunyikan sesuatu dibalik punggung nya. 

Lingkaran api unggun mengecil mengerubungi aku dan temanku. Aku bingung. 

“kak selin, maukah kau mengikat persaudaraan bakti denganku?” temanku menyorongkan tangannya. Buket bunga buatan ada digengamannya. 

“hehhh?!” aku bingung. Mencoba tenang dan berfikir cepat. 

Ramai orang berteriak, “trima! trima! trima! trima!……….” blitz kamera berkilatan. 

Aku menatap temanku. Melas. Aku gak tega. Mataku berkeliling mencari sosok lain. Temanku juga dari pramuka ugm. Hanya ada dua teman laki-laki dari pramuka ugm yang mengikuti KMD. Ah, dia gak ada. Kemana? 

“kak sahan mana?” pertanyaan  itu terlontar begitu saja. 

Temanku terlihat tak suka. Wajahnya tegang. Ia mengulang pertanyaannya. 

“maukah kak selin mengikat persaudaraan bakti dengan ku? 

Bunga masih digenggamnya dihadapanku. Aku diam. Kaku. Mencoba mencairkan suasana. 

“kak sahan mana?” lagi-lagi pertanyaan itu terlontar begitu saja. “duh knapa aku malah nanya si sahan sih” gerutuku dalam hati. 

Temanku menatapku, seakan memohon. “maukan kak selin mengikat persahabatan bakti denganku?” 

Orang masih ramai berteriak. blitz kamera berkejaran. Seakan tak mau terlewat satu detikpun. 

Pikiran jernihku muncul. Yah, arti dari persaudaraan bakti adalah menerimanya sebagai kekasih. karna di pramuka UGM ada penghargaan bagi mereka sesama anggota yang menikah akan diberikan adat pernikahan. ikatan persaudaraan bakti sama halnya dengan ikatan kekasih. Sedang persahabatan bakti sama halnya dengan persaudaraan atau pertemanan biasa sesama anggota pramuka. Aku tersenyum. 

“ikatan persahabatan bakti” ucapku tegas. Bunga digengamnya berpndah ke tanganku.  

Aku melihatnya tersenyum juga. Meski ada raut kecewa. “Ah. Maafkan aku” seruku dalam hati. 

Semua yang ada dilapangan ramai bersorak. Bahagia melihatku menerima bunga dari temanku itu. Mereka salah mengira, aku menerimanya. Ah sudahlah. Biarkan semua orang berfikir begitu. Setidaknya aku tak mempermalukan temanku dihadapan banyak orang. 

Malam itu aku tak melihat sahan. diantara kerumun peserta pun tak ada. Aku masih di sisi lapangan, duduk. ada rasa tidak enak kepada temanku.

———-

Agustus 2013.

“kak selin, bagian Danus kan?”

“oh iya, kak. Kak sahan minta tolong editkan proposal eksternal”

“mau di print kapan kak?”

“hari ini. Biar besok langsung nyebar ke calon sponsor. Udah mepet kih”

“oh, oke kak. Kalo butuh bantuan bilang saja”

Hari itu rasa-rasanya penuh was-was. Tugas kuliah yang bejibun, ditambah tuntutan organisasi, belum lagi beban hidup yang tak ringan ini. Haha apasih, jadi lebay begini. 

“sel, ntar malam kita pleno 1 kan ya?” ucapan janah mengagetkanku.

“heh, serius kak?” wajah kaget. “duh, gimana nih target belum semua tercapai, dan  masih harus menyelesaikan tugas kuliah. Haduh anggota sie ku entah kemana, tak ada yg bisa mewakiliku ikut pleno jika aku tak datang”, gumamku dalam hati. 

“la, iya to. Masa kak selin gak tau? datang lo kamu berdua tu” seru sahan. 

“heh sel. Km knapa e. Diem gitu” lagi-lagi janah membuatku kaget. Pipiku dicubit olehnya. 

“oh iya. Hehe. Sorry sorry. Gimana tadi?” aku mencoba nyambung dengan perbincangan mereka. 

“kak selin bisa dateng pleno kan?” tanya sahan. Ia menatapku. 

“iya, iya, iya” aku gelagapan. Pandangan kami bertemu. “astaghfirullah apa ini” gerutuku. Aku langsung membuang pandang. 

“selin lg pressure banget ya, gara2 jadi danus dan sendirian. ah para senior emang suka seenaknya ya. kita anak baru jadiin koor. Terus anggota nya gak pada jelas gitu. Huh. Aku juga sama, tp aku beruntung masih ada temen satu diksar.” keluh janah menggebu. wajahnya masam. 

“aku lo, jadi rekti. Diomelin mulu sama senior. Kan aku anggota baru. Mana tau aturan yg seharusnya gimana.”

“haha kalo kamu mah, emang harus nya dimarahin kak sahan. Orang kamu ceroboh. Masa bikin proposal gak ada tujuannya” janah ngakak. 

Aku menahan tawa. menutup separoh wajahku dg kedua telapak tangan. 

“udah kak selin, kalo mau ketawa gak usah ditahan” ucap janah masih ditengah tawa menggoda sahan. 

Sahan tak mau kalah. Dengan ekspresi innocent ia menimpali janah. “gak tak bantuin PDD”. 

“udah ah. Gimana tadi proposalnya kak sahann?” aku masih menahan tawa.

“ih. Jangan atu kak sahan. Kita kan teman satu diksar.” janah senyum-senyum membujuk sahan

“aku cuma mau bantu kak selin, wekk!”

“wo~ pilih pilih kak sahan nii”

Pkl. 18.30 jadwal rapat pleno dimulai. Belum banyak reka kerja yang datang. baru ada aku, janah, sahan, kak tono, kak erna dan kak weni. 

“er, kurang siapa rekti nya?” tanya kak weni

kak weni adalah kakak paling senior disini. Sebentar lagi usianya purna. Anggota dan pengurus segan kepadanya. ia tipe senior yang otoriter dan fear disisi lain. 

“koordinator masih banyak yang belum datang sih kak wen. baru ada koor danus, dan PDD. Rekti baru ada aku sama sahan”

“mmm coba dikontak. Kok bisa blm pada datang sih” ucap kak weni judes. 

“iya kak wen. Ini sahan dari tadi kontak belum pada respond” timpal kak erna. Duduknya bergeser disamping sahan. 

raut sahan terlihat kesal. Jarinya sibuk mengetik. kepalanya tertunduk fokus pada hp ditangannya. 

suasana sanggar sepi. semua sibuk dengan pikiran masing-masing. 

“assalamualaikum” kak heri datang. “eh belum dimulai ya rapatnya. Udah jam delapan kurang. Aku kira udah mau slese, haha” ungkapan yang sarkastik. 

Kami semua pun tau. Sudah menjadi kebiasaan rapat molor karena banyak yang telat datang. 

“kak, maaf. Saya jam 9 izin pulang. Kos saya tutup jam 10. Saya pulang naik sepeda”.  Aku memberanikan diri bersuara. 

Semuanya terdiam. 

“udah er, dimulai saja. Apa adanya. Sie yang tidak bisa datang kamu yang wakilkan.” kak weni menatap sinis ke kak erna. 

Pkl. 21.00 aku izin pulang setelah laporan sie danus. Pleno masih berlangsung.

Besoknya, selesai kuliah aku ke sanggar naik sepeda goes andalanku. terburu aku memasuki sanggar. 

“eh ada kak selin. Kemana aja nih. Jam segini baru nongol” 

aku terenyum masam. gak tau knapa rasanya dongkol mendengar perkataannya. Aku fokus mencopot sepatu, duduk dan mencari berkas kelengkapan untuk mengajuan sponsor. 

“ih, sahan jahat. Dateng-dateng si selin udah di sinisin aja.” ujar kakak senior disamping sahan. 

“la, aku dah rempong dari smalem. Eh jam sgini baru dateng”

“ya, maap. Aku emang orang gak bertanggung jawab kok” sautku ngasal.

“eh eh. Yah jangan marah kak. Maap maap. Duh. Sini2 aku bantuin danus”

Sahan mendekatiku. Aku mengukur jarak dengannya.  tidak terbiasa berlama-lama kontak dengan laki-laki membuatku merasa tidak nyaman jika berdekatan dengannya. 

Sesiangan ia menemaniku berkeliling dari calon  sponsor satu ke calon sponsor lain. Kami berboncengan menaiki sepeda motor. Itu kali pertama aku boncengan dengan anggota pramuka putra. Yah seperti yang kamu tau. Aku menjaga jarak dengan laki-laki. Karna agama dan karna diriku sendiri. 

“eh, bentar kek selin. Ada telpon.” ia menepikan motor. Berhenti sembari mengangkat telpon. 

Aku diam. Menunggu. 

“kak, kita disuruh nyusul ke malioboro. Kak rohmat disana sama yang lain, katanya sih belanja perlengkapan acara. Gimana?” ia meminta persetujuanku. 

Aku mengiyakan. Masih berboncengan kami menuju malioboro. 

Malioboro begitu padat. Aku lupa itu hari apa. Parkiran semua penuh. Saat itu parkir masih boleh di pinggiran jalan malioboro. Kami berputar mencari parkiran. Langit jogja kurang bersahabat, udara begitu panas. Ditambah beberapa kali ditolak bapak parkir. Rasanya kesal. 

“mas, jangan asal parkir gini!” seloroh bapak parkir kesal. Keringat mengguyur badannya. 

Aku dan sahan saling bertatap. Kami tertawa. 

“duh, maaf ya kak selin. Mau parkir aja di tolak-tolak. Gimana punya gandengan”

“haha. Smangat smangat!”

Ia mendorong motornya. Aku mengikuti dari belakang. Penuh riuh malioboro membuat kami tak mungkin menaiki motor lagi. 

“kak, sini nih” seru ku. Saking bahagianya nemu slot kosong untuk parkir motor. 

Ia mengangguk. Memarkir motor. 

“thanks yo kak selin” sambil mengepalkan tangan menunjukan jempol.

Kami tertawa.

Hari itu aku tak begitu tau siapa sahan. Samar. Aku samar mengingatnya. Yang aku tau, (mungkin) ia laki-laki baik. (mungkin). Haha aku terlalu acuh utk menilai seseorang, khususnya laki-laki. 

Sahan (chapter 2)

Hidup ini proses. Seperti halnya aku dengan sahan. Aku melihat prosesnya mendewasa, barangkali ia pun begitu. 

Hal paling menjengkelkan dari proses adalah saat orang disekitar kita malah mengolok2, seolah proses itu bagian dari guyonan asik di pentas ketoprak. 

Yah. Beruntungnya meski dianggap dagelan, sahan menikmatinya, karna baginya tak penting menghiraukan mereka. Hingga suatu hari aku tau, ia tak seacuh itu. 

———

Februari, 2014.

Malam renungan Boden Powell. Seorang senior sahan menggodanya. Sahan terlihat mencari-cari sosok yang sedari tadi tak ada. 

“sahan, nyari siapa kamu?”

“hhee, gak kak. Cuma nyari yang gak ada” panggilan ‘kak’ biasa dipakai oleh sesama anggota gerakan pramuka, khususnya kepada senior. 

“siapa sih yang gak ada?” 

“eeee, enggak kak. hehe”

“itu lo, si S” saut seniornya yg lain. 

“siapa sih?”

————

Januari 2013.

Ada chat dari seniorku, kak imu. 

“selin, bisa datang di upacara adat penerimaan tamu boy scout of America?”

“mm insyaallah kak im”

“oke. Ditunggu ya 😊”

“siap kak im”

Sebenarnya aku tak begitu ingin datang. Ada banyak tugas kampus yang harus ku selesaikan. entahlah ada daya yang membuatku akhirnya mengiyakan ajakan kak imu. 

Besoknya aku beneran datang dan mengikuti prosesi adat penerimaan tamu. Usai prosesi aku dan teman-temanku bermaksud memasuki ruang sekretariat pramuka. Suasana didalam ruangan riuh-penuh anggota dan pengurus. 

Aku dan teman-temanku memutuskan untuk mengembalikan perlengkapan, dan bergegas keluar. Temanku yang lain bercakap sembari meletakkan perlengkapan, sedang aku memilih diam. Aku acuh dengan percakapan mereka. Satu perbincangan mereka yang tak akan aku lupakan sampai sekarang. Obrolan yang entah membuatku jengkel.  

“ras, itu siapa e? Mbak senior sini ya?”

“woh! Parah. Ini temen satu diksar kita!!!” seru laras

“haha ya maap. Aku gak tau. muka nya tua gitu sih” sambil menunjuk aku. Saat itu aku diam. pura-pura acuh. 

“wah parah kamu. Minta maaf sana.”

“haha, gak papa ya mbak. Namanya juga gak tau” sahut lelaki itu santai.

Aku tersenyum mendengar ucapan maafnya. Diam-diam aku perhatikan aksen baju yg dipakainya. 

(Yah. Nanti kamu akan tau. Aku orang yang sulit mengingat nama dan wajah haha) 

“hmmm. ni orang siapa sih. ‘kepincut’ baru tau rasa.” kataku dalam hati. 

(kamu tau? aku tertawa setiap mengingat hari itu hahahaha) 

—–

Sawalas, 22/8/17

Sahan (chapter 1) 

Oktober 2012.

Minggu itu aku mengikuti pelatihan dasar dan orientasi bagi anggota baru sebuah organisasi kampus. UKM Pramuka menjadi pilihanku. Pelatihan dasar itu bernama DIKSARPRAM (pendidikan dasar pramuka). Ada banyak hal yg membuatku mengambil keputusan bergabung di organisasi ini (nantinya kamu akan tau, aku makhluk yg penuh dg pertimbangan) 

aku tdk akan menceritakan alasannya disini. Aku hanya akan berfokus pada kisah yg berkaitan dengan sahan. 

yah. Kamu pasti sudah menduganya. Sahan ikut organisasi ini. Kami satu angkatan diksar. Aku tak mengenalnya, diapun begitu. 

Samar ku ingat. Ketika penjelajahan, ada momen dimana aku harus melewati akar pohon yang lumayan tinggi. Seorang lelaki di depanku memakai baju putih dengan lengan merah berhenti, seperti ingin membantuku melewati akar pohon. Saat itu jarak aku dengan nya terbatas oleh akar pohon itu. 

Ya. Aku kesulitan karna aku memakai rok. Meskipun aku selalu memakai celana panjang terlebih dahulu sebelum memakai rok, bagiku sangat memalukan jika ada laki2 melihatku mengangkat rok. 

“sel, kamu bisa kan? Sini aku bantu” ungkap temanku namanya ida. 

Aku berbisik, “duh, ada anak laki. Ntar kalo dia sudah jauh saja” ida mengangguk. 

Laki-laki berbaju putih dengan lengan panjang warna merah menatapku. aku langsung menunduk. Ia seakan paham, aku tak ingin ada komunikasi diantara kami. Kiraku ia mendengar ucapanku, ia langsung mengajak teman laki-laki yg bersamanya utk bergegas berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan aku dibelakang. Sengaja. 

Aku acuh. Hanya ingatan itu tak langsung pergi,terkadang muncul begitu saja. Sampai sekarang. 

“heh sel. Ayok. Kita ketinggalan nih. Takut nyasar” seru ida buru-buru. 

“iya iya” aku melompat setelah yakin tak ada laki-laki yg melihat dan lari menyusul ida. 

———————-

Oktober 2014

Temanku rosi update status di facebook. Dia membagikan memori diksarpram. Foto2 diksarpram bertebaran di beranda akun facebook ku. 

Aku kaget. Lelaki yg berbaju putih dengan lengan panjang warna merah adalah sahan. 

ah. Aku tak mau berspekulasi. 

Sahan

Menuliskan kisahnya membutuhkan daya juang tak biasa. Kenapa? Yah. Kisahnya adalah kisahku sendiri. Aku mencoba objektif dalam mengambil sudut pandang. Alur berkelok, penokohan apa adanya, semoga tak membuatmu bingung saat membacanya. 

jika boleh jujur, ini kali pertama aku menuliskan kisah sepribadi ini. Tentang hubunganku dg seorang laki-laki. ia yang aku benci, namun sangat ku sukai. 

bagiku, benci dan suka itu perkara yg berbeda. Benci bukan berarti tidak suka, suka bukan berarti tidak benci. 

Huh! 

Yogyakarta. 

kisahku dan ia bermula.
Selina. 

KRL, 21/8/2017: 06.38 WIB. 

namanya sahan

sahan, candrabagha, sasibagha, baghasasi dan banyak deretan nama yg dimilikinya. 

seperti arjuna yg memiliki banyak nama. Hanya, ia yg ku sebut sahan memiliki deretan nama karna aku. 

aku yg memberinya. sengaja ku lakukan. bukan tanpa alasan. bukan karna apa-apa. aku hanya ingin memanggilnya begitu. 

ku tuliskan kisah ini, bukan untuk memberitakan tentangnya. aku ingin kamu dan siapapun yg membaca kisah ini tau. aku melihatnya sebagai ia. ia yg sama sekali tak menarik bagiku. 

Sajak Pujian

sambut menyambut

sahut menyahut

tersebut sebut
puji pujian

saut sautan

bertaut-tautan
senyum mengembang

bahagia tersambang

diiringi tembang
selamat untuk paduka atas pujian

bersyukur hamba yang tanpa pujian

syukur atas untaian keberkahan

maaf kan hamba tanpa pujian

mencoba mengais remah-remah keberkahan
apalah hamba, agungnya paduka

hamba belajar akan sahaja

paduka sudah berwibawa
hatur nuhun tersampaikan

pada Gusti, pada paduka, pada para malaikat, pun pada iblis yg membuat hamba menaiki tangga ini~
masih sembari mengais keberkahan dari Gusti 

bagi hamba yg tanpa pujian ini

keberkahan sangat berarti.. apalah hamba,

pengais remah-remah berkah dari Gusti. 

Sawalas, 

Grha sabha pramana

16 November 2016

pkl. 09.37 WIB

Jejaka bercelana hitam (1)

ia kah? 

ia kah jejaka itu? 

berjalan terburu hadir dihadapanku, 

aku berlari, tetiba sudah disisiku

aku terdiam, ia berdiri menatapku. 

ia kah jejaka yg namanya bersanding denganku di lauhul mahfudz? 

sejauh aku pergi, ia selalu menghampiri. 

ia kah jejaka itu? 

jejaka bercelana hitam yg belum kutahu bagaimana rupa sesungguhnya.
ia kah jejaka itu? 

pengingat akan cinta Sang Maha Penyayang. 

ia kah jejaka itu? 

hadirnya membuat banyak orang rela mengangkat kepala, menjabat tangannya satu persatu. 

ia kah jejaka itu? 

yang baru kutahu hitam warna celana dan sepatunya. (dikutip dari sajak jejaka bercelana hitam 1/999+) Sawalas, 

3 Desember 2016

Pemalang