BABARAN: Cerita Lahir Mahyr

Cerita lahiran selalu jadi pertanyaan kalo ketemu temen yang lagi hamil trimester III. Nah, dari pada harus ku ulang terusss cerita sampe capek haha! Aku memutuskan menuliskannya. Berharap bisa dijadikan pembelajaran buat temen-temen yang baca, dan tentunya biar pembaca bisa tau detailnya sejelas-jelasnya cerita ini tanpa harus ku capek bercerita sampe berbusa 😝

Sebelum ke cerita lahiran, ada beberapa hal yang aku & suami putuskan terkait lahirnya anak pertama kami.

1. Dimana?

Tempat lahiran. Ini jadi point pertama yang urgent banget. Mengingat kami punya 4 orang tua (baca: orangtua ku & orang tua suami) semuanya sama-sama ingin aku melahirkan di rumah mereka. Orang tuaku di Pemalang, & orang tua suami di Temanggung. Kenapa aku sebut rumah mereka? sebab kami merantau di Cikarang, Bekasi & alhamdulillah memiliki rumah sendiri (baca: saat itu masih ngontrak hihi).

Memilih ‘dimana’ akan melahirkan membawa kami pada pertanyaan kedua.

2. Ditemani siapa?

Iyaap! Siapa yang akan mendampingi persalinan. Beda tempat jelas beda pendamping. Meskipun masing-masing orang tua kami yg di Pemalang maupun di Temanggung meyakinkan, bahwa suami bisa mendampingi persalinan asal nanti dikabari jelang persalinan, kami tidak mantap dengan itu. Kami menganut prinsip, “hamil itu bukan hanya istri, bukan hanya aku, tapi kami berdua hamil. Begitu juga persalinan. Ini tanggung jawab kami bersama, sehingga harus bersama, kami berdua-sepaket untuk melewatinya. Hal itulah yang membuat kami memutuskan untuk yakin melahirkan anak pertama kami di rantau, berdua.

Konflik keluarga?

Tentu. Bisa dibilang ini konflik terpanas yang harus kami hadapi. Sabar memberi pengertian, bahwa pilihan kami ini tepat & kami bisa melaluinya. Orang tua kami khawatir, dsb. Hingga akhirnya mereka pun memahaminya setelah melalui negoisasi, perbincangan, perdebatan, yaaahhh! Super dehh kalo inget itu. Betapa kekeh kami, dg keputusan kami.

Finally! keputusan kami memang benar-benar keputusan terbaik. Bisa dibilang win-win solution. Orang tua kami pun akhirnya memahami keputusan kami.

Bagi kami, momen persalinan bukan hanya melahirkan anak, lebih dari itu… melahirkan seorang ayah & ibu. Maka memang sebaiknya ada ayah yang mendampingi persalinan, memahami bagaimana istrinya berjuang. Sehingga, si suami akan lebih menghargai sang istri. Intinya banyak banget point positif jika melahirkan dirumah sendiri (baca: meskipun ngontrak), sebab disitulah rumah tangga yang sesungguhnya. Penuh pembelajaran πŸ’•

Pengantarnya panjang yaa! πŸ˜›

Langsung saja. Inilah proses persalinan Mahyr….

Tanggal 1 Januari 2019 aku mulai kontraksi. Keluar lendir darah dari jalan lahir pkl. 13.00 wib. Aku berusaha rileks. Belum bilang suami, sebab saat itu kami masih santai dirumah, suami libur kerja tahun baru, dan baru akan makan siang plus belum mandi hahhaha!

Pkl. 14.00 wib. keluar lendir darah lagi. Aku sampaikan ke suami (fyi. Kami sudah makan siang & mandi 😝). Aku duduk di gym ball, supaya rileks sambil latihan nafas.

Pkl. 16.00 wib. lendir darah mulai banyak. Kami siap-siap ke rumah sakit mitra keluarga Cikarang.

Pkl. 17.00 wib. sampai rumah sakit langsung cek bukaan, alhamdulillah bukaan 2.

Pkl. 18.00 wib. kontraksi masih jarang. Aku selalu fokus nafas, inhale-exhale tiap kontraksi datang. Masih bisa jalan-jalan kesana kemari.

Pkl. 20.00 wib. kontraksi makin sering.

Pkl. 22.00 wib. Cek pembukaan lagi, sudah bukaan 3. Sejak itu, kami diminta pindah ruang, dari ruang rawat inap ke ruang transit persalinan. Cek CTG (detak jantung baby untuk mengetahui interval kontraksi), kontraksi masih terhitung jarang namun sudah berasa nikmat sekali πŸ˜‚

Pkl. 03.00 wib. cek bukaan lagi. Sudah bukaan 4. Kami diminta pindah ke ruang persalinan.

Pkl. 04.00 wib. saya diminta toilet untuk BAB & BAK. Setelah itu cek bukaan sudah bukaan 5.

Pkl. 07.00 wib. Alhamdulillah bukaan lengkap. Dokter datang, dan siap untuk persalinan.

Pkl. 08.31 wib. Mahyr lahir. Langsung diadzani & IMD.

Alhamdulillah prosesnya sangat dimudahkan Allah 😭

Mahyr lahir dengan persalinan normal tanpa interupsi apapun. Tanpa induksi buatan, tanpa robekan dijalan lahir, tanpa kendala yang berarti. Persalinan yang katanya sakit, alhamdulillah sakitnya pun tidak berasa, karna aku fokus di nafas dan tentunya berkah banyak yang mendoakan 😳

Selama proses persalinan, aku ditemani suami. Full tanpa sedetik pun suami tidak disamping ku. Setelahnya kami pun memahami, perasalinan ini memberikan bonding yang kuat antara aku & suami. Suami mendampingiku, menggosok punggungku setiap aku merasakan kontraksi sembari inhale-exhale (kalo inget ini kami selalu tertawa bersama, mengingat betapa campur aduk rasanya saat itu. Romantis sih hahahha)

Kami begadang bersama semalaman. Alhamdulillah 😍 Allah kuatkan.

Mahyr lahir hari rabu, tanggal 2 Januari 2019 diusia kandungan 38minggu, dengan berat 3,073kg, panjang 49cm.

Selamat datang bayi perempuanku 😭 (haru bangettttt huhu)

*Note. Next ku akan share tips rileks menghadapi persalinan.

Diterbitkan oleh Juru Tulis

menuju maqom tertinggi πŸ’•

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

LEMON ENERGY

You gotta keep winning or get pushed to the edge

Wirdatul Aini

Live your life with read and write ^^

Gizi is Easy!

Sharing nutrition things and others

perpuskecil.wordpress.com/

some books to share from my little library

KacamataBanyu

Lepaskan dan terimalah ia, war :)

ayatayatadit

[citation needed]

%d blogger menyukai ini: